Kamis, 25 Maret 2010

“ BARANGSIAPA YANG MENCUKUPI KEBUTUHANMU, NISCAYA ALLAH AKAN MEMENUHI KEBUTUHANNYA….”

Rasulullah saw. Mengajarkan supaya kita memiliki sikap peduli terhadap saudaramu. Sering kita temui, orang yang acuh tak acuh atau masa bodoh melihat kekurangan dan penderitaan yang menimpa orang lain, bahkan terhadap saudara sendiri. Padahal dia orang yang berkecukupan. Prinsipnya, asal tidak mengganggu. Toh dia miskin, dia kekurangan karena perbuatan dia sendiri. Cara ini bukan amalan mulia. Allah swt memandang kekayaan seseorang bukan dari jumlah hartanya yang melimpah, bukan karena kedudukannya yang tinggi di mata banyak orang.

Orang yang kaya empati, kaya peduli, kaya budi pekerti, itulah yang kaya di mata Allah. Jika kita ingin menjadi orang ingin diperhatikan, maka perhatikanlah orang lain. Jika kita ingin Allah selalu memberi kita pertolongan, berbuatlah baik kepada sesama. Acuh tak acuh atau sikap cuek melihat penderitaan orang lain akan menimbulkan sesuatu negatif bagi diri kita. Kita dianggap pelit, tidak akan diperhatikan, bahkan orang lain akan merasa dengki atau benci terhadap kita. Jika berlangsung terus-menerus, diri kita yang akan menderita kerugian. Tentu tidak nyaman saat orang-orang membenci kita.

Ulurkan tangan sesuai kemampuan! Sedikit bantuan yang kita berikan sangat berarti bagi orang yang membutuhkan dibanding banyaknya kekayaan dan kemampuan yang tidak dimanfaatkan untuk berbagi. Dengan mengulurkan tangan, hati kita menjadi tenang, tinggal bersama orang lain dengan perasaan damai dan Allah tidak akan berhenti menurunkan penukarnya…

BERSIKAPLAH OPTIMIS

Jika kita memulai sesuatu dengan mengatakan “ AKU BISA “, pasti kita bisa. Maka kita sudah mengucapkan sesuatu yang positif yang akan membantu keberhasilan. Ditambah dengan semangat dan tekad yang tulus, maka tujuan atau cita-cita akan tercapai. Sebaliknya, mengeluh atau pesimis adalah perilaku negatif yang harus diubah pada saat memulai atau sedang mengerjakan sesuatu.

Suka mengeluh menunjukkan bahwa tekad kita mengerjakan sesuatu adalah “Lemah”. Pasti akan menghambat keberhasilan. Sebaliknya, optimis menjadi bahan bakar pendorong yang akan menghantar kepada kesuksesan. Optimislah dan yakin bahwa kita bisa menyelesaikan sebuah pekerjaan, kita bisa memiliki sesuatu yang kita inginkan, kita bisa meraihnya, dan kita pasti akan berhasil. Maka nilai positif sudah terpatri dalam pikiran kita.

Jika optimis diliengkapi dengan tekad yang tulus, maka usaha yang akan kita lakukan sudah memiliki pendorong yang ampuh/hebat. Kita akan termotivasi, meski pada saat-saat yang mengkhawatirkan. Orang yang mencapai kerberhasilan atau mewujudkan impian adalah “ Orang yang selalu optimis 100% “ bahwa dirinya mampu mencapai tujuan.