Minggu, 22 Mei 2011

Film "DEAR FRANKLY" seorang cilik tunarungu


Film "Dear Frankie" seorang cilik Tuli

Seorang anak tuna rungu berusia 9 tahun selalu berpindah-pindah tempat tinggal bersama ibu dan neneknya. Meski tuna rungu, Frangkie anak yg cerdas. Dia selalu mengirim surat untuk ayahnya yg menurut cerita ibunya bekerja di sebuah kapal besar yg berlayar keliling dunia. Frangkie sangat menyayangi ayahnya. Dia gak tahu kalau sebenarnya ibunya berbohong padanya. Surat yg Frangkie tulis gak pernah sampai ke tangan ayahnya. Balasan surat yg dia terima adalah surat yg ditulis ibunya. Ibunya malah menghindari ayahnya. Sehingga ketika teman sebangku Frangkie yg nakal menantang taruhan dg Frangkie kalau ayahnya gak akan menemuinya meski kapal dimana ayahnya bekerja berlabuh di kota barunya, ibu Frangkie kebingungan karena sama sekali kalau nama kapal yg dia karang untuk Frangkie benar2 ada. Apa yg akan dilakukan ibu Frangkie agar kebohongannya gak terbongkar? Apakah Frangkie bisa bertemu dg ayahnya?

Lihat film ini di metro tv di tayangan world cinema. Film2 yg ditayangkan biasanya kualitas festival. Film ini sangat sederhana. Dari segi cerita sampai keseluruhannya. Saya gak ngerti teknik dalam pengambilan gambar, tapi gambar yg ditampilkan bagus. Dominan warna coklat. Musiknya juga pas. Walau kedengaran agak sepi. Tapi untuk film seperti ini gak perlu musik yg rame. Aktik para pemainnya juga pas. Dia memerankan Frangkie yg g bisa mendengar n selalu diam sepanjang waktu tapi tetap berpikiran positif. Overall, saya menikmati film ini.,, anda dah temui film judul ini... aduhh... q nyari sewa film di beberapa toko sewaan CD memang susah.. :(

semoga ini dapat diteladani bagi para tunarungu yang mendalami... ;)

Kamis, 19 Mei 2011

"CINTA YANG UTUH" Pengalaman-pengalaman kecacatan



Judul Buku : CINTA YANG UTUH
Penyusun : Yudhi Dzulfadli Baihaqi
Penerbit : DAR! Mizan
Tebal buku : 192 halaman


Buku ini sangat penting, baik bagi penyandang cacat maupun orang lain yang ingin memahami penyadang cacat ....

Saya berusaha menyakinkan orangtua bahwa saya dapat merawat anak-anak. Saya tidak berkata kepada mereka bahwa saya punya cukup materi, tetapi saya ingin anak-anak tumbuh bersama saya, memahami kehidupan saya, dan menyaksikan sendiri perjuangan saya sebagai orangtua mereka dan sebagai seorang perempuan penyadang cacat.”

Itulah sepenggal kisah penyandang cacat yang tetap optimis dalam menghadapi hantaman hidup yang sudah tidak bersahabat lagi. Bagaimana dengan kita, apakah kita masih optimis dengan kondisi fisik yang masih lengkap dan kuat? Atau ..., kita kalah sama mereka ??

Inilah buku yang merangkum sejumlah kisah pengalaman dan perjuangan para penyandang cacat yang patut kita renungkan bersama. Betapa besar dan kuat jiwa mereka !!

Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi pembaca,, amin...